Fansur, Kota Islam di Aceh Hilang Diterjang Tsunami

Fansur, Kota Islam di Aceh Hilang Diterjang Tsunami

Ternyata di wilayah Provinsi Aceh sendiri terdapat kota tua Islam yang dimana hilang karena kota tersebut tenggelam diterjang tsunami. Hal ini dimana diungkapkan langsung oleh Arkeolog, E Edwards McKinnon. Yang dimana Menurutnya kota tersebut adalah yang hilang merupakan sebuah kawasan dari Kota Fansur dan juga kota Lamri, yang dimana saat ini lokasinya tersebut berada pada wilayah dari Kabupaten Aceh Besar. Hal ini dimana juga menjadi salah satu hal yang juga disampaikan oleh Edwards yang dimana dirinya pada saat menjadi seorang pembicara pada seminar yang pada saat itu bertema ‘Aceh pusat peradaban Islam yang terawal di Asia Tenggara’ pada saat itu beberapa waktu lalu. Dua pembicara tersebut yang juga tak lain merupakan salah satu dari Guru Besar dari UIN Syarif Hidayatullah, yaitu Azyumardi Azra dan juga yang merupakan Guru Besar dari UIN Ar-Raniry Misri A.Muchlisin yang dimana pada saat itu memaparkan sejumlah bukti-bukti sejarah tentang peradaban Islam yang ada di Asia Tenggara yang dimana menjadi salah satu dari asal mulanya dan juga lahirnya  dari Kerajaan Perlak dan juga kerajaan Samudra Pasai.

Fansur merupakan kota pelabuhan tua di Aceh

Fansur, Kota Tua Islam yang dimana kota tersebut berada di Aceh yang Hilang Diterjang Tsunami di Indonesia yang menyampaikannya Arief Rahmat Azyumardi, hal ini dimana menuruntanya penunjukkan Barus titik nol dari pusat peradaban Islam adalah yang dimaksud dengan pernyataan politis, bukan dalam sebuah pernyataan secara akademik. Yang dimana seperti yang dikatakan, bahwa sejarah itu tentunya harus ditulis dengan teliti untuk beberapa kepentingan salah satunya kepentingan politis yang dimana hal tersebut dikemukakan oleh Azyumardi.

Fansur hilang karena tsunami pada abad 14

Fansur, Kota Tua yang dimana kota Islam yang berada di Aceh yang Hilang Diterjang Tsunami Fansur sendiri belakangan ini dikatakan sebagai kota yang menghilang. Arkeolog juga sekaligus peneliti dari situs-situs sejarah  yang ada di Sumatera yang dimana menyebutkan, kota dari pelabuhan tersebut memang dikabarkan menjadi kota yang dahulu diterjang bencana alam yaitu berupa gempa dan juga tsunami yang ada saat itu terjadi pada abad ke-14 atau ke-15. Sekarang dimana kita tahu bahwa Tsunami purba yang terjadi pada tahun 1390 dan juga 1450 yang dimana dahulu berhasil menghantam pantai Aceh Besar yang dimana hal in i sendiri di kemukakan oleh  Edwards yang yang dimana merupakan Research Associate yang berasal dari Institute of Southeast Asian Studies, yang ada di Singapore.

Banyak situs sejarah Aceh yang hilang

Selain di terjang Tsunami purba, dimana diketahui banyak situs purbakala yang merupakan situs sbobet88 purbakala di Aceh yang dimana di ketahui hilang karena alam. Terutama, hal tersebut seperti yang dikatakan oleh Edwards, situs dari peninggalan Kerajaan Aceh Darussalam yang dimana ada pada daerah kawasan pantai Aceh Besar. Seperti yang dikemukakan dimana ada beberapa situs purbakala yang dimana pada masa menengah yaitu di antara abad ke 11 dan juga abad ke 16 sepanjang pantai yang ada di antara Ujong Pancu dan Krueng Raya,di  Aceh Besar. Dimana beberapa situs tersebut hilang dan juga rusak di akibatkan terkikis ombak atau juga abrasi air laut. Dimana sebagian situs tersebut yang dimana telah terkikis oleh ombak air laut, dan juga termasuk dalam Negeri Fansur dan  juga beberapa pemukiman purba dan juga pertahanan dari masa kesultanan yang dimana terletak dan berada di pantai Aceh Besar.

Kota Fansur sudah diprediksi akan hilang

Edwards McKinnon yang dimana juga pernah melakukan sebuah penelitian dan juga pada saat itu menerbitkan hasil dari penelitiannya yang dimana berjudul Sejarah Aceh Sebelum masa Kesultanan. Dalam risetnya dimana dirinya  menulis, berdasarkan dengan sumber-sumber Arab, yaitu Fansur dan juga Lamri yang dimana sering muncul sebagai dari dua lokasi yang dimana saling berdekatan di wilayah utara dari pulau Sumatera. Dalam sebuah karangan Wolters, yang dimana sebuah pelabuhan yang dinamakan dengan P-o lu dalam yang dimana hal ini sendiri disebut oleh sumber yng berasal dari China, terletak di Sumatra pada bagian Utara. Nama P-o lu ini sendiri beliau kaitkan dengan nama dari Ramni.

Tentang lokasi Fansur sendiri ada pula suatu hal lainnya yang juga sangat menarik. Cordier yang dimana menulis tentang lokasi dari kota Fansur dalam bukunya ini yang dimana mengutip pernyataan dari Valentijn, yang dimana dirinya  seorang sejarawan Belanda yang menerbitkan sebuah laporannya pada sekitar pertengahan di abad ke 18, yang dimana sebagai berikut Kota Fansur sendiri tidak lain dari Pantsur yang terkenal walaupun tidak terkenal lagi namanya, tetapi itu sebuah kerajaan yang kita kenal melalui hasil dari karya Hamzah Pantsuri, yang dimana dirinya seorang penyair yang juga berasal dari tempat Pantsur tersebut. Pantsur yang dimana terletak  di ujung utara pada pulau Sumatera, dan juga sedikit ke arah sebelah barat dari Achin. Fansur tersebut yang dimana pernah penuh dengan beberapa kesibukan perdagangan dan juga masyarakat yang disana sangat ramai pada saat itu.

Fansur bukanlah Barus!

Dalam teks dari Arab Aja’ib al-Hind yang dijana tersusun juga sekitar 1,000 M. yang dijana terdapat sebuah cerita sendiri tentang anak kapal yang dijana terkandas di Fansur. Dimana pada saat itu orang tersebut menyelamatkan diri dan juga kembali ke Lamri atau Lamuri berjalan kaki melalui teluk di pinggir laut yang bernama Lulubilank. Dimana mereka [ada saat itu berjalan [ada waktu siang hari karena jika malam takut dari binatang buas yang dinama bernama zarafa. Juga merupakan sebuah binatang yang diceritakan jika wilayah tersebut penuh dengan kanibal, yang dimana orang yang berekor dan mereka makan daging manusia.

 

Dalam sebuah cerita ini maka ada kaitan dari tiga lokasi, yaitu Fansur, Lulubilank dan juga Lamri. Apabila kejadian ini terjadi sebelum 1.000 M maka tidak mungkin orang-orang tersebut dapat berjalan kaki sepanjang 500 km dari Barus yang dahulu bernama Varocu ke Lamreh dalam suatu wilayah yang juga tidak aman dan juga penuh dengan ancaman. Akan tetapi, apabila jika lokasi Fansur tersebut adalah di tempat Pancu sekarang, maka jaraknya sendiri  hanya sekitar 60 km dan tentunya dapat dilewati dalam waktu yang dimana kurang dari satu minggu, walaupun nantinya mereka harus dapat menyeberang tiga muara Krueng Aceh yang sangat  jelas Edwards.

 

Perjalanan yang dimana sepanjang 60 Km tersebut dan selama beberapa hari dimana menjadi salah satu hal yang seperti ini, menurutnya masuk akal. Apalagi ada beberapa nama di pantai ini yang dimana boleh dikatakan mungkin saja menjadi lokasi yang cocok dengan nama Lulubilank, yaitu namanya Uleelhuee. Memang hal tersebut suatu kemungkinan yang dimana hampir tidak mungkin untuk dapat dibuktikan secara ilmiah tentu namun juga perlu dipertimbangkan.

 

Itulah beberapa fakta menarik dari Fansur, Kota Tua Islam di Aceh Hilang Diterjang Tsunami, yang dimana kota tersebut juga menjadi salah satu dari kota yang menjadi pusat penyebaran Islam di Aceh.